RELASI ANTARA ISLAM DAN BUDAYA
Oleh : Sifa Nurasyami putri
image: bangizzu.blogspot.com
Islam adalah agama yang diturunkan kepada manusia sebagai rahmat
bagi alam semesta. Ajaran-ajarannya selalu membawa kemaslahatan bagi kehidupan
manusia di dunia ini. Allah Swt. pun telah menyatakan hal ini, sebagaimana yang
tersebut dalam Q.S. Al-Anbiya ayat 107 yang artinya, "Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan menjadi rahmat bagi semesta alam."
Membicarakan perihal Islam dan budaya, kita bisa mengetahui
terlebih dahulu apa arti dari Islam. Islam merupakan bentukan mashdar dari kata اسلم – يسلم – اسلاما yang artinya taat, tunduk, patuh, berserah diri
kepada Allah. Sedangkan jika dilihat dari asal katanya maka Islam berasal dari
kataالسَلم, اسلم, استسلم,
سليم, سلام . Setelah itu apa arti dari
budaya ataupun kebudayaan? Menurut KBBI, budaya adalah pikiran; akal budi, yang akan menghasilkan
kebudayaan. Kebudayaan sendiri merupakan hasil kegiatan dan penciptaan
batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat.
Kita bisa liat dari beberapa kejadian dalam penyebaran Islam di
Indonesia. Islam sangat mudah diterima di jawa, karna banyak kesamaan antara
keduanya terutama dalam ajaran sufisme. Dan sebaliknya di daerah Papua sangat
sulit diterima, karena Islam mengharamkan Babi sedangkan masyarakat Papua
menganggap Babi sebagai bagian yang tidak bisa dipisahkan baik dalam kehidupan
ekonomi, sosial maupun politik lokal.
Kemudian apa ada keterkaitan antara Islam dengan budaya? Atau malah
suatu yang bertolak belakang?
Banyak orang yang mempermasalahkan akan hal itu. Tetapi perlu
diketahui dengan adanya agama Islam, itu menjadi sebuah kompas untuk umat
muslim, sebenarnya ke arah mana mereka harus melangkah. Kemudian menjadi sebuah
pedoman pula untuk umat muslim, bagaimana mereka melakukan kehidupan yang
sebenarnya. Islam tidak pernah melarang umat muslim untuk berbudaya, tetapi
Islam datang untuk menunjukan bahwa budaya mana yang benar-benar harus kita
pertahankan, yaitu budaya yang benar-benar bermanfaat, dapat meningkatkan
martabat manusia, dan yang pasti kebudayaan yang dapat meningkatkan peradaban.
Kemudian budaya mana yang harus kita tinggalkan, yaitu budaya yang hanya akan
memberi madharat kepada kita.
Dalam hal kebudayaan ini, kita bisa mengetahui pembagiannya:
Yang pertama yaitu kebudayaan yang tidak menyimpang ajara Islam.
Dalam kaidah fiqih disebutkan bahwa العادة محكّمة bahwa
adat istiadat, atau kebiasaan manusia memilikii hukum di dalamnya. Kaidah ini
berlaku jika memang tidak adanya ketentuan dalam syari’at. Bisa kita liat dari
ketentuan pemberian mahar. Di Aceh biasanya keluarga wanita meminta 50-100 gram
emas. Dalam Islam hal itu sah-sah saja karena tidak adanya ketentuan pemberian
mahar dalam hukum Islam.
Kemudian yang kedua adalah adat yang mulanya sangat bertentangan
dengan Islam, kemudian mengalami rekonstruksi sehingga menjadi islami. Seperti
kebiasaan di zaman jahiliyyah, mereka biasa melakukan Haji dengan cara yang
bertentangan dengan Islam, mereka Thowaf dengan telanjang. Kemudian datanglah
Islam dengan semua ketentuannya, sehingga Haji menjadi suatu Ibadah bahkan
menjadi Rukun Islam yang ke lima.
Kemudian yang terakhir adanya adat yang menyimpang dan diharuskan
untuk ditinggalkan. Seperti kebudayaan yang berada di daerah Jawa tepatnya di
Cilacap, mereka memiliki adat “Tumpeng Rosulan” yaitu berupa makanan yang
dipersembahkan kepada Rasul Allah dan tumpeng lain yang dipersembahkan untuk
Nyi Roro Kidul yang diyakini sebagai
penguasa laut Selatan (Samudera Hindia). Kebudayaan ini sangat dilarang oleh
Islam karena hanya akan menghamburkan hartan mereka, bukan menjadi alat dalam
memajukan peradaban.
Pada konteks selanjutnya, akan tercipta pola-pola keberagaman yang
sesuai dengan konteks lokal, dalam wujud “Islam Pribumi” sebagai jawaban dari
“Islam Autentik” atau “Islam Murni”. Dengan demikian Islam tidak lagi dipandang
secara tunggal, melainkan beraneka ragam. Tidak ada lagi anggapan Islam Timur
Tengah adalah Islam paling benar, karena Islam bersifat Universalis.
Keuniversalan Islam berawal dari pandangan teologi umat Islam bahwa Alquran
(pedoman agama Islam) صالح لكل زمان و مكان bahwa Alquran selalu cocok di setiap waktu dan tempat.
Oleh karena itu sebagai agama paripurna, Islam telah berhasil
berdialektika dengan budaya. Islam tidaklah egois dan ambisius merekonstruksi
seluruh budaya yang telah ada. Disini Islam benar-benar menunjukkan bahwa Islam
benar-benar رحمة للعلمين yaitu Rahmat untuk alam semesta. Bahkan
telah jelas dalam Alquran bahwa Allah menciptakan manusia dalam bersuku-suku
dan berbangsa-bangsa, itu semua agar kita dapat mengenal satu sama lain, bukan
saling menghina dan menjatuhkan.
Terima kasih, mohon maaf apabila ada salah
kata yang saya tulis. Wallahu A’lam.
Comments
Post a Comment