Memahami Ikhlas dalam Islam

Oleh: Rizki Maulana Subarkah

image: kupang.tribunnews.com

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya beribadah kepada-Ku.” (Q.S. Az-Zariyat : 56)

     Dalam ayat tersebut, Allah menjelaskan bahwa tugas utama seorang manusia adalah beribadah kepada-Nya. Artinya, tidak ada kegiatan atau aktivitas melainkan harus bernilai ibadah. Hanya saja, pemahaman mengenai ibadah ini sering disalah pahami oleh sebagian besar orang. Kebanyakan orang memahami bahwa ibadah adalah terus menerus sujud di atas sejadah, atau duduk berzikir di masjid. Ini adalah anggapan dan penafsiran yang sangat keliru. Perlu ditegaskan, ibadah itu sifatnya umum, apapun posisi kita, apapun pekerjaan kita, itu adalah kendaraan kita untuk beribadah kepada Allah.

     Sebagai gambaran sederhana, contohnya ada seorang pekerja kantoran, berangkat pagi pulang malam. Biasanya ia tak  memiliki waktu untuk menyempatkan salat dluha karena waktu masuk kerja terlampau pagi dan waktu istirahat hanya sedikit. Mungkin ia pun tak sempat tahajud karena kelelahan, pulang dari kerja terlalu larut. Jadi, kapan ia beribadah? Ketahuilah, bahwa setiap  detik, menit, dan jam ia duduk dan bekerja di kantor bernilai ibadah. Ia pergi untuk mengais rezeki demi keluarganya, bukankah itu bentuk ibadah yang paling utama? Ia bertanggung jawab mengerjakan sesuatu yang sifatnya wajib dilakukan, yaitu menafkahi anak dan istri.

     Namun, apakah setiap amal yang kita lakukan akan begitu saja disebut sebagai sesuatu yang bernilai ibadah? Sebagai umat Islam, dalam memulai segala aktivitas  diperintahkan untuk berniat. Niat merupakan kunci dari segala amal. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Sayyidina Umar r.a., dari Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya setiap amal (pekerjaan) itu tergantung pada niatnya..” (HR. Bukhari Muslim)

     Niat menjadi tonggak utama bernilainya suatu amal. Intinya, segala perbuatan kita meskipun ia dianggap baik akan bernilai sia-sia. Oleh karena itu, niat menjadi sesuatu yang vital dalam sahnya suatu amal. Mazhab Syafii sangat ketat dalam masalah niat ini. Bahkan, salat yang sempurna pun jika tidak dimulai dengan niat maka akan tertolak (tidak sah).

     Selain daripada niat, dalam beribadah kita dituntut untuk ikhlas. Secara sederhana, ikhlas berarti mengerjakan suatu amal hanya karena Allah semata. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Al-Bayyinah ayat lima yang artinya, “Padahal mereka hanya diperintahkan menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).”

     Pada ayat tersebut Allah memerintahkan kepada manusia agar beribadah dengan ikhlas. Dalam pelaksanaannya, ikhlas beriringan dengan niat, yakni pekerjaan hati. Ketika kita mengerjakan salat, maka fokus kita hanya mengharap ridla Allah saja, bukan karena ingin terpandang saleh. Mengharap pujian dan perhatian orang lain hanya akan merusak amal yang kita kerjakan.

     Para sahabat radliallahu ‘anhum ‘ajmain, adalah generasi terbaik umat Islam. Mereka adalah orang-orang yang dicintai Allah dan rasul-Nya, karena kualitas ibadah mereka yang luar biasa. Dalam pengamalan ikhlas, mereka adalah teladannya. Seperti kisah Usman bin Affan yang menginfakkan seluruh hartanya supaya digunakan untuk kepentingan agama. Tentu ini merupakan tingkatan ikhlas yang paling tinggi. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Ali Imran ayat 92 yang artinya, “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apapun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui.”

     Oleh karena itu, marilah kita bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah sebagai ladang tabungan kita di akhirat kelak. Kerjakanlah ibadah semampu kita, karena dengan begitu akan mudah untuk kita ikhlas dalam beramal.

Comments